Ribuan kata bertabrakan dalam kepalanya saat ia menatap wajah kekasihnya. Dadanya terasa hangat dan sesak. Rasanya ingin tersenyum sekaligus menangis. Benar-benar sulit dipercaya, takdir menggariskannya menikah dengan orang yang ia cintai. Apakah ini yang dinamakan bahagia?
Tapi ia tidak melihat ekspresi yang sama di kedua bola mata yang kini bertatapan dengannya. Apa yang kurang? Ini pertama kalinya ia mencintai, dan ia sadar sepenuhnya kalau ia masih pemula. Belum bisa memberikan cinta yang sempurna.
Ia sadar, dari merasakan hidup bersama dirinya sendiri selama ini, bahwa dirinya bukan manusia ideal untuk menjadi teman menghabiskan hidup. Dan orang sebaik itu bersedia menjadi pasangan hidupnya. Benar-benar misteri. Dan sungguh misteri. Bagaimana ia bisa membahagiakan kekasihnya?
Wajah di depannya menarik ujung bibir ke atas. Pelan, lembut, hangat, dan indah. Senyum yang membuat sumbu-sumbu kembang api di kepalanya meledak pecah. Rasanya dunia ini sempurna sudah.
Ditatapnya kedua bola mata yang memantulkan wajahnya. Entah mengapa, bayangannya tampak lebih indah daripada bayangannya di cermin dan kamera. Apakah itu yang terjadi pada mata yang berkilau? Apapun yang tampak di sana jadi nampak lebih baik. Seperti yang dialaminya semenjak menikah sebulan lalu: menjadi lebih baik.
Ia berjanji dalam hati akan memberikan apapun yang kekasihnya inginkan. Jika bisa, ia akan memiliki seluruh dunia dan memberikannya untuk cintanya seorang.
Maka ia bertanya pada wajah yang hangat sekaligus menyejukkan, yang nampak takkan mundur sekaligus penuh keraguan itu. "Apa yang kamu ingin aku berikan atau lakukan untukmu?"
Ia melihat sepasang mata membulat. Dan senyum yang tadi nampak dibuat-buat nampak menghangat. Ah, ternyata selama ini ada yang ingin diminta tapi kekasihnya ragu mengatakannya.
"Kamu tanya apa yang aku mau?" Ah, suaranya itu! Pelan, dan dalam. Tidak pernah tidak membuatnya merasa jatuh dan tenggelam, sekaligus terbang.
Ia tak bisa tidak menyunggingkan senyum. "Iya, apa yang kamu mau. Katakan saja. Apapun itu. Aku akan benar-benar mengusahakannya," ucapnya lembut.
"Aku mau..." kalimatnya terputus. Suaranya mulai serak. Sepasang mata yang dilihatnya berkaca-kaca. Ia tahu bagi kekasihnya mungkin pertanyaan ini adalah yang pertama kali. Haru terasa di udara.
Ia menunggu.
Sepasang mata yang berkaca-kaca sudah diseka. Suara yang serak mulai mereda. Kekasihnya berusaha melanjutkan kata. "Aku... mau..." bibirnya yang bergetar terdiam sebentar sebelum melanjutkan, "Kamu... pura-pura mencintai aku."
Ia tersentak. "Apa?"
"Aku tahu ini sulit, kalau tidak bisa tidak apa-apa."
"Bukan begitu! Aku selama ini benar-benar mencintaimu!" ucapnya terburu.
Wajah di hadapannya berubah. Senyumnya lebar, dan natural. "Ah, kamu benar-benar bagus dalam hal ini. Mulai sekarang, aku akan pura-pura tidak tahu."
Ia tercekat. Diraihnya tubuh yang ada di hadapannya lalu didekap erat. Baru disadarinya bahwa selama ini ia tidak pernah mengatakannya. Baru disadarinya semua yang dilakukannya selama ini benar-benar masih kurang. Benar-benar tidak sebanding dengan cinta dan kebahagiaan yang telah ia terima.
Ia merasakan pelukannya dibalas. Tak kalah erat. Sesak dan menyesakkan. Rasa sesak yang membuatnya ingin tersenyum sekaligus menangis. Tapi kali ini, ia benar-benar ingin menangis.
Kekasihnya mencintainya begitu dalam, hingga ingin dicintai sampai seperti itu. Dan sekarang, semua telah terlambat. Apapun yang dilakukannya, akan dianggap pura-pura.
Komentar
Posting Komentar