Langsung ke konten utama

Violesphere #3: Aura Clark



Violesphere adalah kerajaan yang terdiri atas berbagai macam suku. Setiap suku memiliki bahasa yang berbeda. Seseorang berasal dari suku mana dapat dilihat dari namanya menggunakan bahasa yang mana. Untuk menjelaskan contoh-contohnya, kami akan menggunakan nama-nama permaisuri. Sebab ternyata sepanjang sejarah panjang Violesphere, raja-raja terdahulu pernah memiliki permaisuri dari berbagai suku. Contoh yang akan kami sajikan hanya sebagian, karena Violesphere memiliki belasan suku dan tidak menutup kemungkinan ada suku-suku lain yang belum kami ketahui karena minimnya jejak sejarah suku tersebut.

Suku Aven memiliki bahasa Avena. Orang yang berasal dari suku tersebut dan menggunakan nama dengan bahasa sukunya misalnya Permaisuri Yasmin dan Permaisuri Syakila. Suku Brenia memiliki bahasa Rennta. Contoh orang yang berasal dari suku tersebut dan menggunakan nama bahasa sukunya adalah Permasuri Rosie dan Permaisuri Tessa. Suku Kaldera memiliki bahasa Delka. Contoh orang dari suku ini yang namanya menggunakan bahasa suku ialah Permaisuri Bulan dan Permaisuri Melati. 

Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, semua suku berbaur dan penggunaan bahasa suku kini sangat jarang ditemui. Bahasa suku hanya diajarkan di kursus-kursus khusus yang sepi peminat. Tidak seperti pada masa lampau dimana banyak orang tidak bisa berbahasa Viose, bahasa persatuan Violesphere, kini semua komunikasi yang ada menggunakan bahasa Viose. Termasuk pada upacara ulang tahun daerah atau pesta perayaan kelahiran bayi. Bahkan dalam pemberian nama pun, saat ini sering didapati orang memberi nama anaknya dengan bahasa suku lain, atau menggunakan lebih dari satu bahasa suku.

Aura Clark mengangguk-angguk kecil saat membaca buku sejarah Violesphere. Tapi bukan ini yang ia cari. Aura mencari seperti apa raja-raja sebelum Raja Zeo. Dari cerita orang tuanya, ayah Raja Zeo sangat baik. Bahkan ketika itu ada majelis perwakilan yang berisi orang-orang yang ahli di berbagai bidang dan orang-orang yang disukai masyarakat. Majelis ini membuat berbagai macam peraturan dan mengawasi pelaksanaannya.

Menurut salah satu teori konspirasi, majelis perwakilan dan raja sepakat membuat peraturan baru bahwa raja, majelis perwakilan, dan jabatan-jabatan lain dipilih langsung dengan pemungutan suara di seluruh penjuru Violesphere oleh setiap orang yang sudah mengikuti wajib militer. Setiap warga Violesphere juga berhak mengajukan diri jika memenuhi persyaratan kualitas. Pangeran Zeo merasa ayahnya ingin mewariskan tahta pada orang lain. Keinginan yang besar untuk berkuasa bertemu dengan kalkulasi Pangeran Zeo bahwa dia takkan memenangkan pemilihan jika itu terjadi. Maka Pangeran Zeo membunuh orang tuanya dan perdana menteri, lalu mengganti sebagian besar anggota majelis perwakilan sehari setelah dilantik. Panglima besar yang dituduh menjadi pelaku dihukum mati agar tidak menjadi batu sandungan baginya.

Aura mempercayai teori konspirasi itu. Memang terdengar berlebihan. Tapi ketika berkeliling perpustakaan dan memasuki ruangan yang ditandai dilarang masuk, ia menemukan bukti-bukti yang mendukung teori itu. Rancangan-rancangan peraturan, catatan-catatan pertemuan, dan laporan-laporan penyelidikan. Di dalam ruangan terlarang itu, katanya banyak arsip dan barang berharga yang dirawat secara khusus agar terjaga. Tapi Aura yakin isinya hanya dokumen-dokumen yang disembunyikan untuk melindungi kedudukan Raja Zeo.

“Kamu lagi,” sapa penjaga perpustakaan melihatnya mengembalikan buku sejarah Violesphere ke rak buku.

Aura menarik ujung bibirnya, memperlihatkan deretan gigi depannya. “Iya, aku sedang istirahat sebelum waktunya memasak makan siang,” ucapnya.

“Sepertinya semua buku sejarah sudah kamu baca, ya?” penjaga perpustakaan itu berkata lagi.

“Nah, itu dia. Aku ingin tahu adakah yang belum kubaca?” tanya Aura.

“Kamu sudah membaca semua biografi tokoh-tokoh Violesphere?”

“Sudah,” jawab Aura sambil mengangguk kecil.

“Kalau begitu, sepertinya sudah semuanya. Kalau berminat, mungkin kamu bisa membaca karya-karya sastra lama. Itu bagian dari sejarah juga,” terang penjaga perpustakaan.

Aura mengucapkan terima kasih, lalu beranjak ke rak sastra lama. Sastra lama biasanya dicetak dengan mesin tua, kertasnya sudah lusuh, dan menggunakan tata bahasa lama, huruf klasik, atau bahasa daerah sehingga susah dibaca. Akan memakan banyak waktu untuk membacanya dan Aura sedang tidak berminat untuk sesabar itu. Jadi Aura memutuskan mengambil buku paling kecil dan paling baru. Sebuah kumpulan puisi yang terbit satu bulan sebelum meninggalnya ayah Raja Zeo.

Ia membawa buku itu pada petugas perpustakaan. “Aku ingin pinjam yang ini. Apakah ini boleh dibawa pulang?”

Penjaga perpustakaan itu menyambut, “Boleh saja.”

Setelah dicatat, Aura mengucapkan sampai jumpa pada penjaga perpustakaan. Digenggamnya buku itu dan diletakkan di kamar sebelum pergi ke dapur membantu para juru masak istana. Aura tidak tahu, seorang dayang tidak henti memperhatikannya. Juga buku puisi yang dipinjamnya.

***

Bintang
Satu bintang
Dua belas bulan
Dua belas bintang
Satu bulan
Berkumpul di langit
Melindungi Violesphere

Hati Putih
Kekuatan sejati lahir dari hati yang suci
Seperti badai
Deras membanjir
Menyala-nyala, berkobar-kobar
Menyengat, menyambar-nyambar
Menerangi
Mengguncang  
Keluar dari tangan yang bersih
Menuju diri yang tidak putih

Merpati
Merpati terbang
Dan akan selalu kembali pulang
Meski harus terbakar dalam diri
Meski harus menahan nafas dalam api
Ia akan meluruhkan semua luka  
Atas nama setia  

Aura menatap aneh kumpulan puisi di tangannya. Puisi-puisinya tidak biasa. Menabrakkan kata seenaknya. Apakah puisi itu dibuat oleh anak-anak sekolahan? Atau justru sastrawan ahli yang menyampaikan begitu banyak hal dalam puisi? Entahlah, di bukunya hanya tertera nama pengarang “Zo”. Dikiranya, menggunakan nama pena hanya ada di luar negeri. Ternyata di Violesphere juga ada.

Aura keluar kamarnya. Ia berjalan-jalan sejenak, mengamati suasana istana sambil berpikir apakah akan menyapu dan mengepel sebelum tidur, atau tidur dulu. Ia merasa mengantuk dan sudah beranjak ke arah kamarnya ketika dilihatnya sesosok laki-laki yang beberapa hari terakhir selalu dilihatnya ketika menyapu dan mengepel malam-malam. Mau apa dia menjelang tengah malam begini? Perpustakaan sudah tutup dan dikunci sejak tadi. Sementara laki-laki itu membawa buku yang tak pernah Aura lihat sama sekali meski ia setiap hari selalu ke perpustakaan. Itu pasti buku terlarang!

“Hai, Aura! Namamu Aura, bukan? Si dayang perpustakaan?” terdengar sapaan dari Devia, dayang ketua yang tiba-tiba muncul dari lorong di depannya. Untunglah, ketika itu si pembawa buku terlarang sudah berbelok ke lorong di depannya lagi.

“Iya, ketua. Apakah ada yang harus saya lakukan?” jawab Aura sambil menahan diri agar tidak melirik sisi lorong lain tempat laki-laki itu berada.

“Apa yang kamu lakukan tengah malam begini?” tanya Devia. Seandainya bukan malam itu, pertanyaan itu akan terasa normal di telinga Aura.

Aura menjawab dengan nada sepolos mungkin, “Saya berencana mengepel, ketua. Beberapa hari terakhir saya mengepel sebelum tidur, karena saya belum juga mengantuk.”

Dayang ketua tertawa. “Bagus itu. Baiklah, aku akan tidur. Tampaknya kamu belum pernah melihat hantu, ya, sampai berani berkeliling sendirian tengah malam?” katanya sebelum pergi begitu saja.

Delvia takut hantu, Aura tahu itu. Delvia tidak pernah sendirian. Selalu ada orang yang berada di dekatnya, meski beberapa meter terpisah. Siapapun itu, dia bisa memergoki laki-laki pembawa buku terlarang. Maka Aura segera menuju ke lorong itu, berlari tanpa suara mendekati laki-laki itu, lalu menariknya, memasukkan ke ruangan alat-alat pembersih, dan menguncinya.

Berlebihan? Tentu saja tidak. Aura akan mengambil resiko itu siapapun orangnya. Apalagi jika orangnya adalah dia, orang yang sedang paling ingin ditemuinya untuk berdiskusi. Orang yang beberapa hari lalu tak sengaja berkenalan dengannya. Satu-satunya yang masih hidup dari keluarga besarnya. Siapa lagi kalau bukan Kei Shirohara.

Sementara itu, di dalam ruangan penuh cairan pembersih, Kei tidak hilang ketenangan. Ia guru olah raga dan orang tuanya pengajar bela diri istana. Meski terkejut, dia diam saja saat dikunci. Bagaimana mau berontak, jika terjadi keributan dirinyalah yang akan ditangkap. Ia adalah penyusup yang mencuri buku terlarang.

Tapi bukan itu saja alasannya. Entah mengapa, Kei percaya dayang itu sedang menyelamatkannya. Beberapa hari lalu mereka berkenalan secara tak sengaja, Aura namanya. Saat tangannya ditarik Aura, ia merasa seperti Aura berkata, ‘Ikuti aku! Kau harus bersembunyi agar selamat!’

Meski begitu, Kei dengan waspada mengamati sekelilingnya. Ia siap jika tiba-tiba pintu dibuka dan harus menyerang puluhan orang sekaligus. Dirabanya dengan hati-hati benda di sekitarnya. Dinding, pintu, lantai. Dibukanya mata dan telinga lebar-lebar.

Terdengar sayup suara langkah kaki mendekat. “Hai, dayang. Apakah ada masalah?” suara laki-laki itu bertanya.

“Tidak, pengawal. Aku hanya akan mengepel,” ucap Aura. Lalu suara langkah kaki itu menjauh dan terdengar suara kunci diputar.

Pintu terbuka dan Aura masuk lalu menguncinya. Aura menghidupkan lampu dan seketika ruangan terang. Aura menatap Kei dengan tajam. “Mengapa Anda melakukannya?” tanyanya.

“Anda pasti tidak mengerti, tapi saya bukan penjahat. Saya hanya ingin membaca buku sebanyak mungkin dari perpustakaan. Memang terdengar tidak masuk akal, tapi begitulah adanya. Saya harap Anda membebaskan saya sekarang, dan saya sangat berterimakasih,” mohon Kei.

Aura mengambil alat pel dan cairan harum. Ia seolah tidak mendengarkan, tapi menjawab, “Apakah ada hubungannya dengan kematian keluarga Anda?”

“Apa?” Kei bertanya, lebih tepatnya pada dirinya sendiri, apakah benar dugaannya Aura berpikiran sama dengannya, mencurigai istana terlibat dalam pembunuhan keluarganya.

“Mungkin Anda tidak tahu, Guru Kei, tapi saya sangat dekat dengan orang tua Anda,” lanjut Aura, “Dan saya curiga pada kasus kematian keluarga Anda. Saya sedang mencari arsip-arsip kerajaan seperti kertas instruksi raja, catatan rapat raja, dengan harapan bisa mendapatkan sesuatu. Namun saya tidak menemukannya atau sesuatu yang berhubungan dengannya. Saya maklum kalau itu rahasia, jadi saya mencari arsip raja sebelumnya yang boleh dibaca masyarakat. Tapi tidak ada juga. Jadi saya curiga arsipnya disimpan di rak-rak buku terlarang. Dan saya yakin buku di tangan Anda adalah buku terlarang, karena saya pernah melihat sampul semua buku yang boleh dibaca. Saya juga yakin Anda mencurinya dengan tujuan yang sama dengan tujuan saya: menyelidiki meninggalnya keluarga Anda.”

Kei mendengarkan dengan kagum. Dayang dihadapannya bukan dayang biasa. Bahkan lebih pintar dari beberapa teman gurunya. “Karena kamu mengenal orang tuaku, jadi mari kita berhenti menggunakan bahasa baku. Dan juga, apakah kita bisa bekerja sama, Aura?”

“Mari bekerja sama, Kei. Tapi pertama, kamu harus keluar dari sini. Aku akan jelaskan cara paling aman keluar tanpa ketahuan. Sebagai gantinya, kamu harus memberi tahuku isi buku itu,” ucapnya.

“Baik,” jawab Kei, “Besok lusa kita bertemu di kedai buah ‘Pink Earl’. Tidak terkenal memang. Tempatnya agak sulit ditemukan. Jadi aku harus menggambar peta. Menyamarlah dan duduk di meja nomor sebelas. Aku akan menyamar dan duduk di meja nomor dua belas. Ini sandi kita, ‘Maaf, bisakah aku melihat bukumu?’ ‘Boleh, aku juga ingin melihat bukumu.’ Kita bertukar buku dan isi bukunya ada di sana. Aku akan kirimkan petanya besok ke kotak surat atas nama keluarga atau temanmu.”

“Atas nama penggemar rahasia saja. Aku tidak bermaksud jahil, tapi karena kamu sehati-hati itu, sebaiknya sekalian anonim saja suratnya,” ujar Aura.

“Aku belajar banyak hal dari meninggalnya keluargaku,” kata Kei.

“Baiklah, sekarang kita keluar istana. Pertama, kamu harus pura-pura menjadi dayang yang mengepel bersamaku,” kata Aura sambil mengambil buku terlarang dari tangan Kei. Ia membungkus bukunya dengan plastik lalu meletakkannya di ember. Kemudian dipenuhinya ember dengan air harum yang berwarna itu. Sempurna sudah buku itu tidak kelihatan.

Kei menerima ember dan alat pel dari Aura, sementara Aura mengambil kain lap. Mereka keluar ruangan dan mulai membersihkan sepanjang koridor. Kei mengepel sedangkan Aura mengelap ornamen-ornamen yang menghiasi dinding dan tiang.

Sampai di sebuah ujung yang menghadap ke hutan, Aura berkata, “Panjatlah dinding itu dan berusahalah tidak bertemu pengawal di luar sana. Hanya ada lima pengawal dan mereka suka mabuk. Jika terdesak, buat seolah mereka bertemu hantu. Sampai bertemu.”

“Terimakasih,” ucap Kei.

Kei mengambil bukunya, memasukkan pembungkusnya di ember, meninggalkan alat pel dan embernya, lalu menaiki pagar tanpa mengatakan apa-apa lagi. Aura memperhatikannya sampai Kei menghilang. Sepeninggalnya, untuk pertama kali dalam hidup Aura tidak sabar menanti esok hari.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merintis Romantis: Teaser

Ribuan kata bertabrakan dalam kepalanya saat ia menatap wajah kekasihnya. Dadanya terasa hangat dan sesak. Rasanya ingin tersenyum sekaligus menangis. Benar-benar sulit dipercaya, takdir menggariskannya menikah dengan orang yang ia cintai. Apakah ini yang dinamakan bahagia? Tapi ia tidak melihat ekspresi yang sama di kedua bola mata yang kini bertatapan dengannya. Apa yang kurang? Ini pertama kalinya ia mencintai, dan ia sadar sepenuhnya kalau ia masih pemula. Belum bisa memberikan cinta yang sempurna. Ia sadar, dari merasakan hidup bersama dirinya sendiri selama ini, bahwa dirinya bukan manusia ideal untuk menjadi teman menghabiskan hidup. Dan orang sebaik itu bersedia menjadi pasangan hidupnya. Benar-benar misteri. Dan sungguh misteri. Bagaimana ia bisa membahagiakan kekasihnya? Wajah di depannya menarik ujung bibir ke atas. Pelan, lembut, hangat, dan indah. Senyum yang membuat sumbu-sumbu kembang api di kepalanya meledak pecah. Rasanya dunia ini sempurna sudah. Ditatapnya kedua bola...

Negara Sepotong Surga: Prolog

Dua ratus lima puluh ribu juta jiwa. Tujuh belas ribu pulau. Katanya negara ini sepotong surga di bumi. Apakah itu hanya nostalgia, sudah nyata, atau masih cita-cita? Bagi kami, itu cita-cita yang pasti datangnya. Jika kita memenuhi semua persyaratannya, sepotong surga itu akan mewujud di negara kita. Dan kami tidak diam saja. Kami sedang menuju ke sana.

Violesphere #2: Kei Shirohara

Kei merenungkan kejadian kemarin. Henry adalah muridnya yang cerdas dan berhati jernih. Kei berharap Henry suatu saat nanti memiliki profesi yang berpengaruh. Dengan pemahaman yang benar, Henry akan membuat Violesphere menjadi lebih baik. Tok! Tok! Tok! Ruangan Kei diketuk dari luar. Ruangan bekerja sekaligus rumah kecil tempat para guru yang belum berkeluarga tinggal. Kei sebenarnya baru saja lulus kelas dua belas jurusan ilmu alam. Namun dia sudah diminta ikut mengajar. Sekolah asrama itu terdiri atas kelas satu sampai dua belas. Kelas sembilan sampai dua belas terdiri atas berbagai jurusan. Ada tata boga, tata busana, ilmu alam, teknologi, administrasi, olahraga, pertanian, dan sebagainya. Kei beranjak membukakan pintu saat melihat kepala sekolah berdiri dengan ekspresi yang aneh. “Silakan masuk, Mr. Gearl,” ujar Kei ramah. Mr. Gearl tampak ragu. “Aku hanya ingin mengabarkan sesuatu, Kei,” katanya pelan. Kei menunggu mantan gurunya yang kini menjadi rekanny...