Violesphere
adalah kerajaan yang terdiri atas berbagai macam suku. Setiap suku memiliki
bahasa yang berbeda. Seseorang berasal dari suku mana dapat dilihat dari
namanya menggunakan bahasa yang mana. Untuk menjelaskan contoh-contohnya, kami
akan menggunakan nama-nama permaisuri. Sebab ternyata sepanjang sejarah panjang
Violesphere, raja-raja terdahulu pernah memiliki permaisuri dari berbagai suku.
Contoh yang akan kami sajikan hanya sebagian, karena Violesphere memiliki
belasan suku dan tidak menutup kemungkinan ada suku-suku lain yang belum kami
ketahui karena minimnya jejak sejarah suku tersebut.
Suku
Aven memiliki bahasa Avena. Orang yang berasal dari suku tersebut dan menggunakan
nama dengan bahasa sukunya misalnya Permaisuri Yasmin dan Permaisuri Syakila.
Suku Brenia memiliki bahasa Rennta. Contoh orang yang berasal dari suku
tersebut dan menggunakan nama bahasa sukunya adalah Permasuri Rosie dan Permaisuri
Tessa. Suku Kaldera memiliki bahasa Delka. Contoh orang dari suku ini yang
namanya menggunakan bahasa suku ialah Permaisuri Bulan dan Permaisuri Melati.
Akan
tetapi, seiring perkembangan zaman, semua suku berbaur dan penggunaan bahasa
suku kini sangat jarang ditemui. Bahasa suku hanya diajarkan di kursus-kursus
khusus yang sepi peminat. Tidak seperti pada masa lampau dimana banyak orang
tidak bisa berbahasa Viose, bahasa persatuan Violesphere, kini semua komunikasi
yang ada menggunakan bahasa Viose. Termasuk pada upacara ulang tahun daerah
atau pesta perayaan kelahiran bayi. Bahkan dalam pemberian nama pun, saat ini
sering didapati orang memberi nama anaknya dengan bahasa suku lain, atau
menggunakan lebih dari satu bahasa suku.
Aura Clark mengangguk-angguk kecil
saat membaca buku sejarah Violesphere. Tapi bukan ini yang ia cari. Aura
mencari seperti apa raja-raja sebelum Raja Zeo. Dari cerita orang tuanya, ayah
Raja Zeo sangat baik. Bahkan ketika itu ada majelis perwakilan yang berisi
orang-orang yang ahli di berbagai bidang dan orang-orang yang disukai
masyarakat. Majelis ini membuat berbagai macam peraturan dan mengawasi
pelaksanaannya.
Menurut salah satu teori konspirasi,
majelis perwakilan dan raja sepakat membuat peraturan baru bahwa raja, majelis
perwakilan, dan jabatan-jabatan lain dipilih langsung dengan pemungutan suara
di seluruh penjuru Violesphere oleh setiap orang yang sudah mengikuti wajib
militer. Setiap warga Violesphere juga berhak mengajukan diri jika memenuhi
persyaratan kualitas. Pangeran Zeo merasa ayahnya ingin mewariskan tahta pada
orang lain. Keinginan yang besar untuk berkuasa bertemu dengan kalkulasi
Pangeran Zeo bahwa dia takkan memenangkan pemilihan jika itu terjadi. Maka
Pangeran Zeo membunuh orang tuanya dan perdana menteri, lalu mengganti sebagian
besar anggota majelis perwakilan sehari setelah dilantik. Panglima besar yang
dituduh menjadi pelaku dihukum mati agar tidak menjadi batu sandungan baginya.
Aura mempercayai teori konspirasi
itu. Memang terdengar berlebihan. Tapi ketika berkeliling perpustakaan dan
memasuki ruangan yang ditandai dilarang masuk, ia menemukan bukti-bukti yang
mendukung teori itu. Rancangan-rancangan peraturan, catatan-catatan pertemuan,
dan laporan-laporan penyelidikan. Di dalam ruangan terlarang itu, katanya
banyak arsip dan barang berharga yang dirawat secara khusus agar terjaga. Tapi
Aura yakin isinya hanya dokumen-dokumen yang disembunyikan untuk melindungi
kedudukan Raja Zeo.
“Kamu lagi,” sapa penjaga
perpustakaan melihatnya mengembalikan buku sejarah Violesphere ke rak buku.
Aura menarik ujung bibirnya,
memperlihatkan deretan gigi depannya. “Iya, aku sedang istirahat sebelum
waktunya memasak makan siang,” ucapnya.
“Sepertinya semua buku sejarah sudah
kamu baca, ya?” penjaga perpustakaan itu berkata lagi.
“Nah, itu dia. Aku ingin tahu adakah
yang belum kubaca?” tanya Aura.
“Kamu sudah membaca semua biografi
tokoh-tokoh Violesphere?”
“Sudah,” jawab Aura sambil
mengangguk kecil.
“Kalau begitu, sepertinya sudah
semuanya. Kalau berminat, mungkin kamu bisa membaca karya-karya sastra lama.
Itu bagian dari sejarah juga,” terang penjaga perpustakaan.
Aura mengucapkan terima kasih, lalu
beranjak ke rak sastra lama. Sastra lama biasanya dicetak dengan mesin tua,
kertasnya sudah lusuh, dan menggunakan tata bahasa lama, huruf klasik, atau
bahasa daerah sehingga susah dibaca. Akan memakan banyak waktu untuk membacanya
dan Aura sedang tidak berminat untuk sesabar itu. Jadi Aura memutuskan
mengambil buku paling kecil dan paling baru. Sebuah kumpulan puisi yang terbit
satu bulan sebelum meninggalnya ayah Raja Zeo.
Ia membawa buku itu pada petugas
perpustakaan. “Aku ingin pinjam yang ini. Apakah ini boleh dibawa pulang?”
Penjaga perpustakaan itu menyambut,
“Boleh saja.”
Setelah dicatat, Aura mengucapkan
sampai jumpa pada penjaga perpustakaan. Digenggamnya buku itu dan diletakkan di
kamar sebelum pergi ke dapur membantu para juru masak istana. Aura tidak tahu,
seorang dayang tidak henti memperhatikannya. Juga buku puisi yang dipinjamnya.
***
Bintang
Satu
bintang
Dua
belas bulan
Dua
belas bintang
Satu
bulan
Berkumpul
di langit
Melindungi
Violesphere
Hati Putih
Kekuatan
sejati lahir dari hati yang suci
Seperti
badai
Deras
membanjir
Menyala-nyala,
berkobar-kobar
Menyengat,
menyambar-nyambar
Menerangi
Mengguncang
Keluar
dari tangan yang bersih
Menuju
diri yang tidak putih
Merpati
Merpati
terbang
Dan
akan selalu kembali pulang
Meski
harus terbakar dalam diri
Meski
harus menahan nafas dalam api
Ia
akan meluruhkan semua luka
Atas
nama setia
Aura menatap aneh kumpulan puisi di
tangannya. Puisi-puisinya tidak biasa. Menabrakkan kata seenaknya. Apakah puisi
itu dibuat oleh anak-anak sekolahan? Atau justru sastrawan ahli yang
menyampaikan begitu banyak hal dalam puisi? Entahlah, di bukunya hanya tertera
nama pengarang “Zo”. Dikiranya, menggunakan nama pena hanya ada di luar negeri.
Ternyata di Violesphere juga ada.
Aura keluar kamarnya. Ia
berjalan-jalan sejenak, mengamati suasana istana sambil berpikir apakah akan
menyapu dan mengepel sebelum tidur, atau tidur dulu. Ia merasa mengantuk dan
sudah beranjak ke arah kamarnya ketika dilihatnya sesosok laki-laki yang
beberapa hari terakhir selalu dilihatnya ketika menyapu dan mengepel
malam-malam. Mau apa dia menjelang tengah malam begini? Perpustakaan sudah
tutup dan dikunci sejak tadi. Sementara laki-laki itu membawa buku yang tak
pernah Aura lihat sama sekali meski ia setiap hari selalu ke perpustakaan. Itu
pasti buku terlarang!
“Hai, Aura! Namamu Aura, bukan? Si
dayang perpustakaan?” terdengar sapaan dari Devia, dayang ketua yang tiba-tiba
muncul dari lorong di depannya. Untunglah, ketika itu si pembawa buku terlarang
sudah berbelok ke lorong di depannya lagi.
“Iya, ketua. Apakah ada yang harus
saya lakukan?” jawab Aura sambil menahan diri agar tidak melirik sisi lorong
lain tempat laki-laki itu berada.
“Apa yang kamu lakukan tengah malam
begini?” tanya Devia. Seandainya bukan malam itu, pertanyaan itu akan terasa
normal di telinga Aura.
Aura menjawab dengan nada sepolos
mungkin, “Saya berencana mengepel, ketua. Beberapa hari terakhir saya mengepel
sebelum tidur, karena saya belum juga mengantuk.”
Dayang ketua tertawa. “Bagus itu.
Baiklah, aku akan tidur. Tampaknya kamu belum pernah melihat hantu, ya, sampai
berani berkeliling sendirian tengah malam?” katanya sebelum pergi begitu saja.
Delvia takut hantu, Aura tahu itu.
Delvia tidak pernah sendirian. Selalu ada orang yang berada di dekatnya, meski
beberapa meter terpisah. Siapapun itu, dia bisa memergoki laki-laki pembawa
buku terlarang. Maka Aura segera menuju ke lorong itu, berlari tanpa suara mendekati
laki-laki itu, lalu menariknya, memasukkan ke ruangan alat-alat pembersih, dan
menguncinya.
Berlebihan? Tentu saja tidak. Aura
akan mengambil resiko itu siapapun orangnya. Apalagi jika orangnya adalah dia,
orang yang sedang paling ingin ditemuinya untuk berdiskusi. Orang yang beberapa
hari lalu tak sengaja berkenalan dengannya. Satu-satunya yang masih hidup dari
keluarga besarnya. Siapa lagi kalau bukan Kei Shirohara.
Sementara itu, di dalam ruangan
penuh cairan pembersih, Kei tidak hilang ketenangan. Ia guru olah raga dan
orang tuanya pengajar bela diri istana. Meski terkejut, dia diam saja saat
dikunci. Bagaimana mau berontak, jika terjadi keributan dirinyalah yang akan
ditangkap. Ia adalah penyusup yang mencuri buku terlarang.
Tapi bukan itu saja alasannya. Entah
mengapa, Kei percaya dayang itu sedang menyelamatkannya. Beberapa hari lalu
mereka berkenalan secara tak sengaja, Aura namanya. Saat tangannya ditarik
Aura, ia merasa seperti Aura berkata, ‘Ikuti aku! Kau harus bersembunyi agar
selamat!’
Meski begitu, Kei dengan waspada
mengamati sekelilingnya. Ia siap jika tiba-tiba pintu dibuka dan harus
menyerang puluhan orang sekaligus. Dirabanya dengan hati-hati benda di
sekitarnya. Dinding, pintu, lantai. Dibukanya mata dan telinga lebar-lebar.
Terdengar sayup suara langkah kaki
mendekat. “Hai, dayang. Apakah ada masalah?” suara laki-laki itu bertanya.
“Tidak, pengawal. Aku hanya akan
mengepel,” ucap Aura. Lalu suara langkah kaki itu menjauh dan terdengar suara
kunci diputar.
Pintu terbuka dan Aura masuk lalu
menguncinya. Aura menghidupkan lampu dan seketika ruangan terang. Aura menatap
Kei dengan tajam. “Mengapa Anda melakukannya?” tanyanya.
“Anda pasti tidak mengerti, tapi
saya bukan penjahat. Saya hanya ingin membaca buku sebanyak mungkin dari
perpustakaan. Memang terdengar tidak masuk akal, tapi begitulah adanya. Saya
harap Anda membebaskan saya sekarang, dan saya sangat berterimakasih,” mohon
Kei.
Aura mengambil alat pel dan cairan
harum. Ia seolah tidak mendengarkan, tapi menjawab, “Apakah ada hubungannya
dengan kematian keluarga Anda?”
“Apa?” Kei bertanya, lebih tepatnya
pada dirinya sendiri, apakah benar dugaannya Aura berpikiran sama dengannya,
mencurigai istana terlibat dalam pembunuhan keluarganya.
“Mungkin Anda tidak tahu, Guru Kei,
tapi saya sangat dekat dengan orang tua Anda,” lanjut Aura, “Dan saya curiga
pada kasus kematian keluarga Anda. Saya sedang mencari arsip-arsip kerajaan
seperti kertas instruksi raja, catatan rapat raja, dengan harapan bisa
mendapatkan sesuatu. Namun saya tidak menemukannya atau sesuatu yang
berhubungan dengannya. Saya maklum kalau itu rahasia, jadi saya mencari arsip
raja sebelumnya yang boleh dibaca masyarakat. Tapi tidak ada juga. Jadi saya
curiga arsipnya disimpan di rak-rak buku terlarang. Dan saya yakin buku di
tangan Anda adalah buku terlarang, karena saya pernah melihat sampul semua buku
yang boleh dibaca. Saya juga yakin Anda mencurinya dengan tujuan yang sama
dengan tujuan saya: menyelidiki meninggalnya keluarga Anda.”
Kei mendengarkan dengan kagum.
Dayang dihadapannya bukan dayang biasa. Bahkan lebih pintar dari beberapa teman
gurunya. “Karena kamu mengenal orang tuaku, jadi mari kita berhenti menggunakan
bahasa baku. Dan juga, apakah kita bisa bekerja sama, Aura?”
“Mari bekerja sama, Kei. Tapi
pertama, kamu harus keluar dari sini. Aku akan jelaskan cara paling aman keluar
tanpa ketahuan. Sebagai gantinya, kamu harus memberi tahuku isi buku itu,”
ucapnya.
“Baik,” jawab Kei, “Besok lusa kita
bertemu di kedai buah ‘Pink Earl’. Tidak terkenal memang. Tempatnya agak sulit
ditemukan. Jadi aku harus menggambar peta. Menyamarlah dan duduk di meja nomor
sebelas. Aku akan menyamar dan duduk di meja nomor dua belas. Ini sandi kita,
‘Maaf, bisakah aku melihat bukumu?’ ‘Boleh, aku juga ingin melihat bukumu.’
Kita bertukar buku dan isi bukunya ada di sana. Aku akan kirimkan petanya besok
ke kotak surat atas nama keluarga atau temanmu.”
“Atas nama penggemar rahasia saja.
Aku tidak bermaksud jahil, tapi karena kamu sehati-hati itu, sebaiknya sekalian
anonim saja suratnya,” ujar Aura.
“Aku belajar banyak hal dari
meninggalnya keluargaku,” kata Kei.
“Baiklah, sekarang kita keluar
istana. Pertama, kamu harus pura-pura menjadi dayang yang mengepel bersamaku,”
kata Aura sambil mengambil buku terlarang dari tangan Kei. Ia membungkus
bukunya dengan plastik lalu meletakkannya di ember. Kemudian dipenuhinya ember
dengan air harum yang berwarna itu. Sempurna sudah buku itu tidak kelihatan.
Kei menerima ember dan alat pel dari
Aura, sementara Aura mengambil kain lap. Mereka keluar ruangan dan mulai
membersihkan sepanjang koridor. Kei mengepel sedangkan Aura mengelap
ornamen-ornamen yang menghiasi dinding dan tiang.
Sampai di sebuah ujung yang
menghadap ke hutan, Aura berkata, “Panjatlah dinding itu dan berusahalah tidak
bertemu pengawal di luar sana. Hanya ada lima pengawal dan mereka suka mabuk.
Jika terdesak, buat seolah mereka bertemu hantu. Sampai bertemu.”
“Terimakasih,” ucap Kei.
Kei mengambil
bukunya, memasukkan pembungkusnya di ember, meninggalkan alat pel
dan embernya, lalu menaiki pagar tanpa mengatakan apa-apa lagi. Aura
memperhatikannya sampai Kei menghilang. Sepeninggalnya, untuk pertama kali
dalam hidup Aura tidak sabar menanti esok hari.
Komentar
Posting Komentar