Aku membencinya. Dia menuntut aku
selalu benar. Ini kan tuntutan pekerjaanku. Dia juga pernah membela orang yang
bersalah. Baiklah, aku memang harusnya hanya menuntut orang yang salah. Jika
dan hanya jika aku tidak harus bekerja sama dengan orang-orang yang menyebalkan
ini. Aku tidak keberatan dikalahkan jika itu keputusan yang adil.
***
Aku membencinya. Dia seharusnya
hanya menuntut orang yang bersalah. Dia tahu, mengapa mengikuti alur yang ada?
Dia tidak terlihat seperti takut pada sesuatu. Apakah dia melakukannya hanya
untuk menyelamatkan posisinya? Baiklah, aku beberapa kali memang membela orang
yang salah. Tapi aku jadi melakukannya karena mereka tidak bekerja dengan baik.
Aku tidak keberatan disalahkan jika mereka bekerja dengan baik.
***
Dia pasti membenciku. Aku membela
orang yang salah habis-habisan demi tuntutan pekerjaan. Aku melawannya.
Menantangnya. Menentangnya. Aku membantahnya. Berkata dingin padanya.
Tapi di dalam hatiku, aku setuju
dengannya. Aku ingin mendukungnya. Aku mengagumi pengacara itu.
Kelemahlembutan hatinya, konsistensinya memegang prinsip, usahanya untuk selalu
adil. Dia laki-laki yang baik. Aku tersiksa dengan pekerjaan ini.
***
Dia pasti membenciku. Aku
menjatuhkannya dengan tega. Aku membuat semua argumennya runtuh. Aku
mengalahkannya. Aku mendebatnya. Menatap matanya tajam. Berbicara sinis di
hadapannya.
Padahal di dalam hatiku, aku tahu
dia sepakat denganku. Aku ingin melindunginya. Aku berharap bisa bekerja sama
dengannya. Aku mengagumi jaksa itu. Keteguhannya, keberaniannya,
kecerdasannya. Dia terjebak di dalam tim yang buruk bersama orang-orang yang
menyulitkannya. Dia perempuan yang kuat. Pekerjaan ini membuatku terluka.
***
Mengapa kita harus bertemu dengan
cara seperti ini? Mengapa kita harus saling mengenal sebagai lawan?
Seandainya waktu bisa diulang,
aku akan mengambil keputusan yang berbeda agar aku bisa bertemu denganmu
sebagai seorang teman.
***
Mengapa kita berpikir dengan
sudut pandang yang berbeda? Mengapa kita memilih jalan yang berbeda ketika begitu
banyak kesamaan visi di antara kita?
Seandainya aku mengenalmu lebih
awal, aku akan menemuimu dan membujukmu bekerja denganku.
***
Takdir menggariskan seorang pengacara dan seorang jaksa sering bertemu dalam persidangan. Apa lagi yang
digariskan takdir?
Komentar
Posting Komentar