Langsung ke konten utama

Heartbeat: Prolog


Aku membencinya. Dia menuntut aku selalu benar. Ini kan tuntutan pekerjaanku. Dia juga pernah membela orang yang bersalah. Baiklah, aku memang harusnya hanya menuntut orang yang salah. Jika dan hanya jika aku tidak harus bekerja sama dengan orang-orang yang menyebalkan ini. Aku tidak keberatan dikalahkan jika itu keputusan yang adil.

***

Aku membencinya. Dia seharusnya hanya menuntut orang yang bersalah. Dia tahu, mengapa mengikuti alur yang ada? Dia tidak terlihat seperti takut pada sesuatu. Apakah dia melakukannya hanya untuk menyelamatkan posisinya? Baiklah, aku beberapa kali memang membela orang yang salah. Tapi aku jadi melakukannya karena mereka tidak bekerja dengan baik. Aku tidak keberatan disalahkan jika mereka bekerja dengan baik.

***

Dia pasti membenciku. Aku membela orang yang salah habis-habisan demi tuntutan pekerjaan. Aku melawannya. Menantangnya. Menentangnya. Aku membantahnya. Berkata dingin padanya.

Tapi di dalam hatiku, aku setuju dengannya. Aku ingin mendukungnya. Aku mengagumi pengacara itu. Kelemahlembutan hatinya, konsistensinya memegang prinsip, usahanya untuk selalu adil. Dia laki-laki yang baik. Aku tersiksa dengan pekerjaan ini.

***

Dia pasti membenciku. Aku menjatuhkannya dengan tega. Aku membuat semua argumennya runtuh. Aku mengalahkannya. Aku mendebatnya. Menatap matanya tajam. Berbicara sinis di hadapannya.

Padahal di dalam hatiku, aku tahu dia sepakat denganku. Aku ingin melindunginya. Aku berharap bisa bekerja sama dengannya. Aku mengagumi jaksa itu. Keteguhannya, keberaniannya, kecerdasannya. Dia terjebak di dalam tim yang buruk bersama orang-orang yang menyulitkannya. Dia perempuan yang kuat. Pekerjaan ini membuatku terluka.

***

Mengapa kita harus bertemu dengan cara seperti ini? Mengapa kita harus saling mengenal sebagai lawan?

Seandainya waktu bisa diulang, aku akan mengambil keputusan yang berbeda agar aku bisa bertemu denganmu sebagai seorang teman.

***

Mengapa kita berpikir dengan sudut pandang yang berbeda? Mengapa kita memilih jalan yang berbeda ketika begitu banyak kesamaan visi di antara kita?

Seandainya aku mengenalmu lebih awal, aku akan menemuimu dan membujukmu bekerja denganku.

***

Takdir menggariskan seorang pengacara dan seorang jaksa sering bertemu dalam persidangan. Apa lagi yang digariskan takdir?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merintis Romantis: Teaser

Ribuan kata bertabrakan dalam kepalanya saat ia menatap wajah kekasihnya. Dadanya terasa hangat dan sesak. Rasanya ingin tersenyum sekaligus menangis. Benar-benar sulit dipercaya, takdir menggariskannya menikah dengan orang yang ia cintai. Apakah ini yang dinamakan bahagia? Tapi ia tidak melihat ekspresi yang sama di kedua bola mata yang kini bertatapan dengannya. Apa yang kurang? Ini pertama kalinya ia mencintai, dan ia sadar sepenuhnya kalau ia masih pemula. Belum bisa memberikan cinta yang sempurna. Ia sadar, dari merasakan hidup bersama dirinya sendiri selama ini, bahwa dirinya bukan manusia ideal untuk menjadi teman menghabiskan hidup. Dan orang sebaik itu bersedia menjadi pasangan hidupnya. Benar-benar misteri. Dan sungguh misteri. Bagaimana ia bisa membahagiakan kekasihnya? Wajah di depannya menarik ujung bibir ke atas. Pelan, lembut, hangat, dan indah. Senyum yang membuat sumbu-sumbu kembang api di kepalanya meledak pecah. Rasanya dunia ini sempurna sudah. Ditatapnya kedua bola...

Negara Sepotong Surga: Prolog

Dua ratus lima puluh ribu juta jiwa. Tujuh belas ribu pulau. Katanya negara ini sepotong surga di bumi. Apakah itu hanya nostalgia, sudah nyata, atau masih cita-cita? Bagi kami, itu cita-cita yang pasti datangnya. Jika kita memenuhi semua persyaratannya, sepotong surga itu akan mewujud di negara kita. Dan kami tidak diam saja. Kami sedang menuju ke sana.

Violesphere #2: Kei Shirohara

Kei merenungkan kejadian kemarin. Henry adalah muridnya yang cerdas dan berhati jernih. Kei berharap Henry suatu saat nanti memiliki profesi yang berpengaruh. Dengan pemahaman yang benar, Henry akan membuat Violesphere menjadi lebih baik. Tok! Tok! Tok! Ruangan Kei diketuk dari luar. Ruangan bekerja sekaligus rumah kecil tempat para guru yang belum berkeluarga tinggal. Kei sebenarnya baru saja lulus kelas dua belas jurusan ilmu alam. Namun dia sudah diminta ikut mengajar. Sekolah asrama itu terdiri atas kelas satu sampai dua belas. Kelas sembilan sampai dua belas terdiri atas berbagai jurusan. Ada tata boga, tata busana, ilmu alam, teknologi, administrasi, olahraga, pertanian, dan sebagainya. Kei beranjak membukakan pintu saat melihat kepala sekolah berdiri dengan ekspresi yang aneh. “Silakan masuk, Mr. Gearl,” ujar Kei ramah. Mr. Gearl tampak ragu. “Aku hanya ingin mengabarkan sesuatu, Kei,” katanya pelan. Kei menunggu mantan gurunya yang kini menjadi rekanny...